Sudah lama bunda mau posting tentang Papua ini, tapi berhubung semangat ngeblog masih naik turun...jadi tertunda terus. Jadi ini cerita bunda selama 3 bulan tinggal di Tembagapura sekitar tahun 2005. Sudah lama sekali ya, tapi cukup berkesan meskipun tinggal di sananya cukup singkat hanya 3 bulan.
Bunda bisa tinggal di Tembagapura ini karena ikut suami tugas. Dulu sebelum menikah dengan suami, suami memang sudah tugas di Tembagapura tepatnya di PT Freeport. Sudah setahunan suami tugas di sana, kemudian menikah dengan bunda, dan bunda langsung di ajaknya ke sana, tapi tertunda karena ternyata tidak ada apartemen yang kosong. Di saat ada apartemen kosong eh bundanya malah hamil...jadi untuk keselamatan si calon bayi, di tundalah bunda menyusul suami sampai usia kandungan di atas 3 bulan, karena kondisi jalan di sana sangat riskan untuk seorang ibu yang sedang hamil muda. Menurut suami di sana daerah pegunungan, jalanannya pun bukan aspal mulus...tapi masih jalan berbatu.
Sampai akhirnya saat itu tiba, ketika sampai di bandara, bunda langsung illfeel huhuhu... kok bandaranya masih jadul banget yaa...ubinnya masih kayu-kayu...kotor pula...tapi bunda maklum namanya juga di pelosok, jauh dari ibu kota...pulau terujung pula. Bunda membesarkan hati, sudah ambil keputusan untuk mendampingi suami, oke jalani saja, ikhlasin saja.
Sampai di bandara kita di jemput menuju Tembagapura. Sepanjang perjalanan wow seperti sedang offroad jalanan berbatu dan menanjak, berkelok-kelok, mobil yang di pakai juga semua land cruiser. Yang mengendaraipun harus mempunyai sim internasional. Mengendarai mobil di daerah PT Freeport ini harus dengan kecepatan 20km/jam jika lebih dari itu dapat surat peringatan. Dan seluruh karyawan disini sangat taat peraturan... kata suami kalau sudah berapakali dapat SP akan di pecat, siapa yang mau kehilangan pekerjaan yang bergaji besar? Selama tinggal di sana memang bunda perhatikan, setiap di perempatan jalan mobil pasti berhenti sebentar, padahal tidak ada lampu merah dan tidak ada orang yang menyebrang juga, dan tidak ada juga petugas yang menjaga lalu lintas, tapi mereka tertib dan taat, itu sudah peraturan kalau setiap di perempatan jalan mobil harus berhenti sebentar baru jalan lagi melanjutkan perjalanan, isi mobil pun penumpangnya di batasi, untuk mobil-mobil land cruiser hanya boleh maksimal di isi 4 penumpang. Ini beberapa contoh mobil-mobil yang ada di sana.

Foto diambil dari
sini
Kembali ke perjalanan menuju Tembaga Pura, transit di Kuala Kencana untuk membuat ID card sebelumnya suami sudah memberikan data-data bunda, jadi di sini bunda hanya foto saja, ID nya langsung jadi. Kesan di Kuala kencana sepi dan bersih. Ini fotonya :
Foto di ambil dari
sini
Ternyata perjalanan menuju Tembagapura sangat ketat, sepanjang jalan melewati 6 pos penjagaan untuk memeriksa ID card kita, oya ID card ini harus kita bawa kalau kita berkunjung ke tempat-tempat fasilitas umum yang semuanya gratis disana, seperti gym, bis, perpustakaan, internet, renang, golf dll.
Sampai di apartemen bunda senang ternyata bayangannya tidak seperti di bandara yang terlihat masih kumuh pelosok, ini benar-benar apartemen yeeyyy...seperti di luar negeri hahahaa norak ya bunda. Di apartemen ini ada fasilitas pemanas ruangan, jadi bukan AC ya karena di sana udaranya dingin, ada fasilitas mesin cuci yang langsung kering, walaupun sebenarnya bisa laundry gratis...apartemen sudah lengkap isinya. kompor yang di gunakan kompor listrik, di dalam sink tempat cuci piringnya pun sudah ada penghancur sisa-sisa masakan, norak bunda hahahaha....oya sudah ada cleaning servicenya setiap hari...mantaps...
Ini penampakan apartemennya:
Pemanas ruangan di bawah tirai.
Perabotan lengkap, kompor listrik plus oven, kulkas.
Disana benar-benar semua gratiiiis...tidak perlu bayar listrik qiqiqii..mau telpon kangen ortu juga bisa tinggal angkat telpon, gratis..tis..tis.. kita tinggal masukkan kode saja. Pernah bunda telpon ibu di rumah hanya menanyakan resep masakan karena buku catatan resep bunda ketinggalan, maklum pengantin baru, masak juga harus lihat resep, saat saya telpon, ibu tertawa...jauh-jauh telpon dari papua cuma mau tanya resep wkwkwk.
Ini contoh penampakan apartemen di sana :
Tempat bermain dengan latar apartemen di belakang.
Ini salah satu rumah di sana juga, dengan garasi di bawah rumahnya.
Disini bunda benar-benar merasakan pengantin baru...masih merasakan
ke khawatiran suami melihat istrinya yang sedang hamil tiba-tiba jarinya tergores
pisau, kalau sekarang mah beuh...sudah cuek aja liat istrinya celaka juga, bukan begitu? wkwkwk...kalau ingat papua, ingat masa-masa indahnya hidup berumah tangga, setiap siang suami pulang ke rumah untuk makan siang...mangkanya walaupun ini pengalaman
sudah lama tapi cukup membawa kenangan... prikitieww...
Awal-awal tinggal di Tembagapura, bunda masih belum punya teman, tapi lama-lama
berkenalan dengan istri-istrinya temannya suami yang juga mengikuti
suaminya tugas. Ternyata istri-istrinya teman suami ini mereka menjadi
guru les, lumayan sambil menemani suami tugas tapi bisa menerima
penghasilan, menurut mereka pendidikan di sini masih tertinggal, jadi
ketika ada orang-orang pendatang seperti kita, penduduk yang sudah lama menetap di sini meminta bantuan pada kita-kita pendatang, untuk memberikan
pelajaran tambahan buat anak-anaknya.
Oya diluar yang serba gratis disini, ternyata untuk pendidikan dan biaya rumah sakit disini sangat mahal sekali.
Supermarket disini kalau tidak salah namanya Hero, kalau belanja, barang belanjaan kita
bisa di antar asalkan belanjanya tidak lewat dari jam 10, jadi enak selesai belanja kita bisa jalan-jalan dulu ga repot berat bawa belanjaan. Supermarket di sana sudah buka dari jam 8 pagi. Di sana yang laris
adalah aqua, menurut info yang bunda dapat dari orang-orang yang sudah
lama tinggal di sana, mereka kalau minum atau masak memakai aqua, mereka
belum berani konsumsi pakai air di sana, bunda juga tidak tahu kenapa,
ya jadi mengikuti saja. Jadi aqua selalu di tunggu...kalau datang
langsung di serbu...kadang serunya kita suka saling kasih khabar kalau
stok aqua lagi banyak..di supermarket, pasti berbondong-bondong langsung
ke sana, telat sedikit sudah kehabisan lagi dan harus menunggu
berhari-hari.
Bunda
pernah punya pengalaman ketika belanja di supermarket sini, bunda salah ambil barang, bunda
ambil tomat isi 4 buah harganya 16rb bunda kaget mahal sekali, ternyata
yang bunda ambil tomat impor yang datangnya dari australia, sejak itu
bunda kalau belanja harus teliti, karena ya memang lebih dekat impor
dari Australia daripada ke Jakarta jadi barang-barangnya banyak yang
dari australia.
Disana juga ada jadwal bisa ambil tanaman
atau bibit apa saja gratis, tapi bunda lupa setiap hari apa, ada tempat
khusus untuk pengambilan bibitnya. Dan di sana juga ada jadwal turun ke
Timika, kalau tidak salah sebulan sekali tiap hari apa di minggu
pertama misalnya seperti itu, jika mau ikut kita harus daftar
sebelumnya, sebutkan ID kita, dan kita ke sana naik bis yang di
sediakan. Misalnya kumpul jam 7 pagi, sampai di Timika kita di drop di
sana, kemudian janjian akan di tungggu sampai jam 2 misalnya, dan kita
bebas mau jalan-jalan disana. Di Timika ini di pasar tradisionalnya,
biasanya peserta yang ikut stok belanja sayuran dan yang utama mereka
pada belanja ikan-ikanan, karena kalau di Tembagapura harga ikan mahal.
Kalau
bunda dan seorang teman namanya Lina, istrinya manager, kita
hanya melihat-lihat pasar tradisionalnya, ternyata banyak juga yang
penjualnya orang jawa. Bunda belanja di tempat oleh-oleh dan beli
sedikit emas buat kenang-kenangan. Bunda pikir harga emas disini murah
ternyata sama mahal juga qiqiqi... katanya kenapa emasnya mahal,
memang emasnya dari papua tapi di buatnya/dibentuknya di sulawesi dan di
jual kembali di papua itu sebabnya harga emasnya mahal-mahal
juga. Tapi memang
kadar emasnya lebih bagus.
Di tempat oleh-oleh
Bisnya mogok, sambil menunggu bis bantuan datang foto-foto dulu.
Sambil menunggu bis datang, berburu edelweis
Ini berburu anggrek
Bisnya transit di Kuala kencana, bunda foto-foto di kolam renang Kuala Kencana.
Selama disana ada yang bunda heran dengan penduduk aslinya, bunda herannya mereka sepertinya tidak ada kerjaan luntang lantung di jalan tapi banyak uang, kalau lihat anak-anaknya jajan di supermarket makanannya coklat dan cemilan mahal lainnya, ternyata menurut suami, untuk penduduk aslinya kalau tidak salah ada 7 suku, itu dapat jatah 1% dari hasil tambang freeport, 1% untuk di bagi 7 suku tapi walaupun hanya 1% itu banyak, terbayang kan gimana penghasilan emas dan tembaganya dari hasil penambangan PT Freeport yang ga habis-habis di gali....seandainya itu milik bangsa kita...mmm mungkin kita sudah negara kaya raya...tapi tidak jamin juga sih kalau korupsi di mana-mana.
Menurut suami juga, sebenarnya untuk penduduk asli sudah di buatkan perumahan untuk mereka tinggali, tapi sayang rumahnya banyak yang tidak di tempati, mungkin karena kebiasaan mereka tidak biasa hidup menetap. Guyonan suami nih, ciri penduduk asli kalau sedang tidak punya uang mereka tidur di rumah tapi kalau tidak punya uang mereka tidur di jalan, kok bisa begitu? karena kalau punya uang banyak mereka habiskan untuk foya-foya minum-minuman keras, akhirnya mereka tertidur di jalan qiqii..Gaya bahasanya disana selalu diakhiri dengan kata "kah" misalnya sudah makankah?
Menjelang kepulangan, persiapan lahiran di Depok, karena mahal kalau lahiran di sini, bunda dan suami jalan-jalan menyusuri Tembagapura dan Hidden Valley. Hidden Valley ini lokasi lebih tinggi dari tembagapura, disana lebih berkabut. Berikut foto-foto jalan-jalan kami sebelum pulang kembali ke Jakarta.
Kebayang yaa mobilnya sebesar apa kalau bannya sebesar ini.
Masjid di Tembagapura.
Kantor di tembagapura, ada batu yang mengandung emas dan tembaga.
Ini suami bunda.
Pemandangan di Hidden Valley.
Di Hidden Valley banyak Edelweis tumbuh liar.
Makan-makan perpisahan sebelum kita pulang, makan-makan di apartemen, mengundang teman-teman suami. Teman-teman suami banyak yang Cina dan Bule. Disini Jessica asal australia memberikan kenang-kenangan buat bunda topi rajut bayi yang dia buat sendiri. Padahal bunda ga pernanh ngobrol karena keterbatasan bahasa inggris bunda :p
Beruntung sekali setelah kami pulang, tidak lama terdengar khabar, terjadi penembakan di sana. Jadi mobil-mobil yang turun menuju Timika/bandara di tembakin oleh penembak-penembak misterius. Sempat beberapa lama dinyatakan tidak aman. Alhamdulillah kami sudah berada di Depok tempat kami berasal. Pulang dari kerja selama 2th di sana, alhamdulillah kami langsung bisa membeli sebuah rumah dan mobil. Karena selama di sana, cukup bisa menabung, karena semua fasilitas gratis, uang gaji suami hanya terpakai untuk biaya makan di sana.